.jpg)
sumber gambar :nasional.sindonews.com
Berbicara
tentang hantu, tentu setiap orang memiliki aneka perspektif liar yang bersumber
dari pengalaman maupun imajinasi masing-masing insan, akan tetapi secara ilmiah
sampai setidaknya tulisan sederhana dibuat belum ada gagasan maupun argumentasi
logis yang dapat membuktikan berkaitan dengan konsensus ilmiah yang menunjukan kriteria,
wujud ataupun bentuk nyata dari hantu, semuanya hanya bersandar pada pengalaman
magis ataupun kesaksian-kesaksian yang kebenarannya masih disangsikan.
Namun,
saya tidak tertarik untuk membahas pengalaman ataupun kesaksian dari
orang-orang yang mengaku mampu untuk melihat ataupun berelasi dengan wujud tak kasat
mata yang dinamakan hantu seperti yang akhir-akhir ini digaungkan oleh beberapa
orang di sosial media. Bagi saya semua itu hanya hiburan gelak tawa untuk
menemani ruwetnya mengungkap kebenaran kasus Ir. Ferdy Sambo.hhhhh, saya
bercanda ya.
Serpihan
tulisan dari kedua paragraf diatas sebetulnya adalah pengantar singkat untuk mendalami
tragedi Hallowen yang terjadi salah satu distrik di Seoul, Korea Selatan, yang
setidaknya menelan 149 nyawa. Dikutip
dari Kompas (30/10/2022) Tragedi perdana yang terjadi pada tanggal 31 Oktober
tersebut dipicu karena adanya euforia perayaan Hallowen secara masal tanpa
menggunakan masker, menilik rekaman yang tersebar di media sosial terlihat
ratusan orang memadati beberapa gang sempit di sekitar lokasi perayaan,
beberapa orang memadati lokasi, sesak-sesakan serta memicu kepanikan masal dan
saling dorong yang membuat situasi tidak terkendali. Dilansir dari reuters
Minggu (30/10/2022), jumlah pengunjung yang memeriahkan perayaan Hallowen
tersebut ditaksir lebih dari 100.000 orang, bisa kita bayangkan bagaimana padat
dan sesaknya manusia yang ikut memeriahkan perayaan Hallowen di Negeri Ginseng
tersebut.
Kekurangan
Oksigen adalah Hantunya
Secara
kronologis, dari beberapa artikel investigasi dan penelusuran jurnalistik yang saya
dalami kurang lebih penyebab adanya kematian massal ini dipicu akibat adanya
kepanikan, saling berdesakan dan situasi cemas yang merambah dari ribuan orang
yang berduyun memaksa untuk keluar lokasi perayaan. Akibatnya, beberapa orang
yang diduga meninggal dunia, mayoritas mengalami sesak napas akibat kekurangan
oksigen ditengah kerumunan manusia yang memaksa untuk menyelamatkan diri.
Dari
uraian kronologis singkat tersebut, saya lebih tertarik untuk membahas mengenai
salah penyebab kematian dari tragedi tersebut yakni sesak napas akibat kekurangan
oksigen. hssstt…, izinkan saya terlebih dahulu menghirup oksigen agar otak saya
tetap dapat berkerja setidaknya sampai tulisan ini selesai. Dilansir dari situs wikipedia, oksigen adalah
salah satu molekul unsur yang tidak berwarna, tidak bebentuk, dan tidak berbau,
oksigen menjadi sangat urgen untuk menyokong keberlangsungan hidup manusia,
sebab zat ini berfungsi untuk stabilitas kinerja otak,kekebalan tubuh, serta sistem
metabolisme biologis tubuh lainnya.
secara
normal manusia bernafas kira-kira sekitar 12-24 kali per menit dengan estimasi
tiap tarikan nafas sekitar 3–4-liter udara yang masuk kedalam paru-paru. Jika
dikalkulasi, dalam setahun, udara yang dihirup bisa mencapai 9.5-ton dengan 23%
udara adalah oksigen. Akan tetapi, konsumsi oksigen akan berlipat jika
seseorang berada dalam kondisi sesak, padat dan cemas. Tragedi yang terjadi di
negeri ginseng tersebut hemat saya juga diakibatkan oleh minimnya pasokan
oksigen untuk menyokong kebutuhan konsumsi oksigen yang berlipat dari
orang-orang yang sudah berdesak-desakan untuk menyelamatkan diri, sehingga
banyak yang jatuh terkulai karena pasokan oksigen berbanding terbalik dengan
konsumsi oksigen.
Dapat
kita bayangkan tragedi kematian di distrik Itaewon, dimana gemeriah acara,
gemerlap lampu disekitar gang-gang sempit dan lalu lalang
manusia yang bersilewaran menimbulkan aksi saling dorong, saling injak, serta
saling himpit yang membuat acara tersebut sebetulnya untuk euforia malah
menjadi malapetaka bagi orang-orang yang ikut memeriahkan perayaan tersebut.
Hemat
saya, tragedi Hallowen di Itaewon menunjukan adanya kekurangan pasokan oksigen
yang berbanding terbalik dengan kebutuhan pengunjung yang saling
berdesak-desakan di lokasi perayaan. Bagi saya dari tragedi Hallowen ini pertanyaanya adalah seberapa banyak oksigen
yang harusnya dikonsumsi oleh orang-orang yang mengikuti perayaan tersebut agar
selamat?, Dari hitung-hitungan kasar diatas, bagi saya tentunya pasokan oksigen
di area perayaan tersebut tentu cukup minim.
Demikianlah
keseimbangan alam menjadi sangat signifikan agar kontribusi pasokan oksigen
dapat tetap terjaga, kita tidak dapat seenak udel berandai-andai. Tantan Hadian dalam artikelnya berjudul Gas Oksigen dan Tragedi Halloween Itaewon
mengatakan kompisisi udara ini akan tetap dalam jumlah seperti itu, jika
berubah maka akan terjadi ketidakseimbangan dan mengakibatkan bencana bagi
manusia.
Dari
tragedi perayaan Hallowen di Itaewon ini pada akhirnya saya menemukan hantu
yang tidak berwujud, tidak berbentuk dan tidak berbau itu adalah oksigen itu
sendiri, sejauh ini referensi hantu saya ya itu.