Kamis, 03 November 2022

Awas Stres Digital





Di era modern yang serba cepat ini, timbul aneka persoalan dan patologi entah yang berhubungan dengan keadaan jasmani maupun psikologis. Tanpa kita sadari terutama dengan mekanisme dunia digital yang hampir menyentuh setiap sektor kehidupan kita, selalu ada efek samping yang turut menyertainya. Berbagai macam persoalan baik yang menyangkut realitas praktis maupun realitas digital menimbulkan paradoks terhadap kesehatan kita, terutama kesehatan mental.

 Salah satu penyakit mental yang kerap terjadi adalah stres. Dilansir dari situs Kementrian Kesehatan republikIndonesia (Kemenkes) mendefinisikan stress sebagai Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan diri.

Stres pada hakikatnya adalah reaksi alamiah dalam kehidupan sebagai manifestasi terhadap realitas ataupun persoalan/pengalaman yang dialami seseorang, tetapi apabila berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan. reaksi  setiap orang terhadap stress diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun stres dapat membantu menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan, namun dapat juga menyebabkan gangguan emosional dan fisik.

Berangkat dari  realitas saat ini, yang mana hampir seluruh aktivitas manusia bersentuhan langsung dengan penggunaan teknologi seperti gawai dan aneka perangkat lunak berbasis daring tanpa disadari terkadang membuat kita mudah stress.

Ketika melihat halaman profil seseorang yang kita kenal ataupun tidak, menyimak time line  dan bookmark link yang membingungkan, serta scroll beragam video di media sosial maupun aplikasi tertentu terkadang membuat kita tidak nyaman, terutama jika pekerjaan kita berhubungan dengan dunia coding atau pemrograman tentu akan semakin Merusak mood  dan mental kita jika dilakukan secara berlebihan.

Media Sosial : Curse atau Bless?

Tak bisa menafikan media sosial bak pedang bermata dua, jika dimanfaatkan sesuai koridor penggunaanya akan memberikan dampak positif bagi usernya, sebaliknya jika disalahgunakan tentu akan menusuk sang pengguna pedangnya, semua bergantung seberapa sadar seseorang memahami literasi manfaatnya. Hal tersebut juga berkaitan dengan penyakit stress yang saat ini merebak di kalangan remaja hingga orang dewasa.

platform media sosial paling populer di kalangan remaja adalah YouTube (digunakan oleh 85 persen remaja, menurut survei 2018 Pew Research Center), Instagram (72 persen) dan SnapChat (69 persen). Menurut laporan 2018 yang dikeluarkan oleh GlobalWebIndex, orang berusia 16--24 tahun menghabiskan rata-rata tiga jam menggunakan media sosial setiap hari.

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental terutama masalah internalisasi alias citra diri.

Media sosial hakikatnya berkontribusi signifikan terhadap  pada anak-anak dan remaja, secara tidak langsung media sosial mengajarkan keterampilan sosial, memperkokoh relasi ,serta sebagai wahana bermain secara digital. Namun, penggunaan platform media sosial yang dilakukan secara berlebihan tentu akan berdampak negatif, terutama pada kesehatan mental dan kesejahteraan pengguna muda.

Dilansir dari situs halodoc Faktanya adalah di media sosial remaja juga mengalami perlakuan buruk. Survei Pew Research Center tahun 2018 tentang remaja Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa satu dari enam remaja telah mengalami setidaknya satu dari enam bentuk perilaku penganiayaan online mulai dari

*         Panggilan nama (42 persen).

*         Menyebarkan rumor palsu (32 persen).

*         Menerima gambar eksplisit yang tidak diminta (25 persen).

*         Mendapatkan ancaman fisik (16 persen).

Hal yang lebih membahayakan adalah ketika situasi semacam ini dipahami sebagai suatu kewajaran atau hal yang lumrah terjadi oleh remaja Ketika membangun relasi di media sosial, terutama jika dibarengi dengan minimnya literasi dan pemahaman kontekstual terhadap dampak buruk dari penggunaan media sosial secara berlebihan.

Alasan lain mengapa  sosmed bisa menimbulkan gangguan mental terutama stress adalah sosmed yang dikelola orang-orang yang mudah merasa tidak nyaman. Hal itu didukung juga kemudahan oleh beberapa fitur sosial media memungkinkan kita untuk menandai seseorang pada suatu foto tanpa persetujuan.

Jika aktivitas tersebut dilakukan tanpa persetujuan,hal ini sangat sulit diungkapkan oleh orang tersebut. Akhirnya karena terus menumpuk rasa tidak nyaman dan mengalami depresi serta harus melewati proses pemulihan dalam pengelolaan kehidupan sosialnya.

Ketersediaan akses platform media sosial dan layananan informasi yang tak hanya datang dari para jurnalis, memungkinkan semua orang dapat berbagi informasi satu sama lain.Konsekuensi buruk yang mungkin timbul dari realitas semacam ini adalah kaburnya esensi dan substansi dari informasi, orang terutama kaum muda tidak lagi memperhatikan kualifikasi informasi,  yang mungkin saya sudah disetel oleh oknum-oknum tertentu untuk menimbulkan semacam kecemasan , dan ini akan berdampak buruk bagi kaum muda dan remaja terutama yang minim literasi, sehingga gangguan mental khususnya stress dapat terjadi.

Kiat-Kiat Mengurangi Stress

Gangguan mental pada galibnya tidak saja disebabkan oleh persoalan yang timbul dalam realitas sosial di dunia nyata, tetapi realitas virtual melalui bingkisan berbagai macam platform media sosial juga dapat mengakibatkan gangguan mental terutama stress di kalangan remaja dan kaum muda.

Tsunami informasi dan kebebasan akses beraneka platform media sosial di satu sisi membuka cakrawala berpikir dan tumbuhnya literasi terhadap nilai-nilai pedagogik.Namun persoalannya adalah tak semua platform di media sosial menyediakan informasi yang  selayaknya  dapat dikonsumsi untuk kepentingan literasi dan pedagogik, melainkan timbulnya gangguan mental khususnya stress terutama dikalangan remaja dan kaum muda yang rentan didikte oleh arus informasi yang beraneka ragam.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda perlu adanya langkah solutif yang mampu membuat kita terlepas dari stress digital di media sosial, perihal itu, remaja dapat dimulai dari dirinya sendiri perlu membenahi diri agar tidak terus berlama-lama scroll lini masa Facebook, Twitter, atau Instagram yang memang asyik. Namun Jika berlebihan bisa bikin kecanduan.

Agar kita tidak terus-terusan terpapar konten negatif yang malah membuat stres, maka membatasi diri untuk mengakses media sosial juga dapat meminimalisir hal tersebut. Makin hari makin banyak saja berita kejahatan atau isu-isu politik yang bikin gerah.

Dikutip dari CNN, Susanne Babbel, seorang psikoterapis khusus pemulihan trauma, memaparkan otak manusia yang terus menerus "dirasuki" hal-hal buruk dan traumatis tanpa henti (dalam hal ini konten-konten sosmed yang negatif) dapat memperlambat kerjanya untuk mengatasi stres.

Pada akhirnya, mengakses konten-konten negatif terlalu sering dapat menyebabkan kita terus merasa stres sehingga tanpa sadar memunculkan respon kecemasan dan takut tak beralasan yang terlalu berlebihan (paranoid).

Tak hanya dari remaja itu sendiri, kontribusi dari pihak lain seperti orangtua dan institusi pendidikan juga perlu digalakkan lagi, mengingat dengan memberikan pembatasan akses bagi remaja terhadap konten-konten negatif.

Sudah selayaknya semua pihak baik dari remaja,orangtua, pemerintah,hingga Lembaga perlindungan konten terhadap anak berpartisipasi dalam mengatasi hal ini, mengingat gangguan mental terutama stress akibat konten-konten media sosial yang buruk dapat Merusak mental dari remaja bersangkutan.



Rabu, 12 Februari 2020

Euforia Hantu Oksigen di Itaewon

sumber gambar :nasional.sindonews.com

 

Berbicara tentang hantu, tentu setiap orang memiliki aneka perspektif liar yang bersumber dari pengalaman maupun imajinasi masing-masing insan, akan tetapi secara ilmiah sampai setidaknya tulisan sederhana dibuat belum ada gagasan maupun argumentasi logis yang dapat membuktikan berkaitan dengan konsensus ilmiah yang menunjukan kriteria, wujud ataupun bentuk nyata dari hantu, semuanya hanya bersandar pada pengalaman magis ataupun kesaksian-kesaksian yang kebenarannya masih disangsikan.

Namun, saya tidak tertarik untuk membahas pengalaman ataupun kesaksian dari orang-orang yang mengaku mampu untuk melihat ataupun berelasi dengan wujud tak kasat mata yang dinamakan hantu seperti yang akhir-akhir ini digaungkan oleh beberapa orang di sosial media. Bagi saya semua itu hanya hiburan gelak tawa untuk menemani ruwetnya mengungkap kebenaran kasus Ir. Ferdy Sambo.hhhhh, saya bercanda ya.

Serpihan tulisan dari kedua paragraf diatas sebetulnya adalah pengantar singkat untuk mendalami tragedi Hallowen yang terjadi salah satu distrik di Seoul, Korea Selatan, yang setidaknya menelan 149 nyawa.  Dikutip dari Kompas (30/10/2022) Tragedi perdana yang terjadi pada tanggal 31 Oktober tersebut dipicu karena adanya euforia perayaan Hallowen secara masal tanpa menggunakan masker, menilik rekaman yang tersebar di media sosial terlihat ratusan orang memadati beberapa gang sempit di sekitar lokasi perayaan, beberapa orang memadati lokasi, sesak-sesakan serta memicu kepanikan masal dan saling dorong yang membuat situasi tidak terkendali. Dilansir dari reuters Minggu (30/10/2022), jumlah pengunjung yang memeriahkan perayaan Hallowen tersebut ditaksir lebih dari 100.000 orang, bisa kita bayangkan bagaimana padat dan sesaknya manusia yang ikut memeriahkan perayaan Hallowen di Negeri Ginseng tersebut.

Kekurangan Oksigen adalah Hantunya

Secara kronologis, dari beberapa artikel investigasi dan penelusuran jurnalistik yang saya dalami kurang lebih penyebab adanya kematian massal ini dipicu akibat adanya kepanikan, saling berdesakan dan situasi cemas yang merambah dari ribuan orang yang berduyun memaksa untuk keluar lokasi perayaan. Akibatnya, beberapa orang yang diduga meninggal dunia, mayoritas mengalami sesak napas akibat kekurangan oksigen ditengah kerumunan manusia yang memaksa untuk menyelamatkan diri.

Dari uraian kronologis singkat tersebut, saya lebih tertarik untuk membahas mengenai salah penyebab kematian dari tragedi tersebut yakni sesak napas akibat kekurangan oksigen. hssstt…, izinkan saya terlebih dahulu menghirup oksigen agar otak saya tetap dapat berkerja setidaknya sampai tulisan ini selesai.   Dilansir dari situs wikipedia, oksigen adalah salah satu molekul unsur yang tidak berwarna, tidak bebentuk, dan tidak berbau, oksigen menjadi sangat urgen untuk menyokong keberlangsungan hidup manusia, sebab zat ini berfungsi untuk stabilitas kinerja otak,kekebalan tubuh, serta sistem metabolisme biologis tubuh lainnya.

secara normal manusia bernafas kira-kira sekitar 12-24 kali per menit dengan estimasi tiap tarikan nafas sekitar 3–4-liter udara yang masuk kedalam paru-paru. Jika dikalkulasi, dalam setahun, udara yang dihirup bisa mencapai 9.5-ton dengan 23% udara adalah oksigen. Akan tetapi, konsumsi oksigen akan berlipat jika seseorang berada dalam kondisi sesak, padat dan cemas. Tragedi yang terjadi di negeri ginseng tersebut hemat saya juga diakibatkan oleh minimnya pasokan oksigen untuk menyokong kebutuhan konsumsi oksigen yang berlipat dari orang-orang yang sudah berdesak-desakan untuk menyelamatkan diri, sehingga banyak yang jatuh terkulai karena pasokan oksigen berbanding terbalik dengan konsumsi oksigen.

Dapat kita bayangkan tragedi kematian di distrik Itaewon, dimana gemeriah acara, gemerlap lampu   disekitar gang-gang sempit dan lalu lalang manusia yang bersilewaran menimbulkan aksi saling dorong, saling injak, serta saling himpit yang membuat acara tersebut sebetulnya untuk euforia malah menjadi malapetaka bagi orang-orang yang ikut memeriahkan perayaan tersebut.

Hemat saya, tragedi Hallowen di Itaewon menunjukan adanya kekurangan pasokan oksigen yang berbanding terbalik dengan kebutuhan pengunjung yang saling berdesak-desakan di lokasi perayaan. Bagi saya dari tragedi Hallowen ini  pertanyaanya adalah seberapa banyak oksigen yang harusnya dikonsumsi oleh orang-orang yang mengikuti perayaan tersebut agar selamat?, Dari hitung-hitungan kasar diatas, bagi saya tentunya pasokan oksigen di area perayaan tersebut tentu cukup minim.

Demikianlah keseimbangan alam menjadi sangat signifikan agar kontribusi pasokan oksigen dapat tetap terjaga, kita tidak dapat seenak udel berandai-andai.  Tantan Hadian dalam artikelnya berjudul  Gas Oksigen dan Tragedi Halloween Itaewon mengatakan kompisisi udara ini akan tetap dalam jumlah seperti itu, jika berubah maka akan terjadi ketidakseimbangan dan mengakibatkan bencana bagi manusia.

Dari tragedi perayaan Hallowen di Itaewon ini pada akhirnya saya menemukan hantu yang tidak berwujud, tidak berbentuk dan tidak berbau itu adalah oksigen itu sendiri, sejauh ini referensi hantu saya ya itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 07 Februari 2020

lelaki dan sepasang celana

kata penyair yang sempat singgah dibelakang rumah mu,
bahwa celananya dapat membaca pikiran.
kau menimang-nimang, bahwasanya celana mu 
dapat berbicara pukul 00.00

ah, bukannya naif
kau hanya mencoba menghayal, bahwa 
masturbasi adalah kesempatanmu untuk 
merasakan dunia erotis.

kau mencoba berhayal lagi
kali ini malam jumaat di belakang surau
tentang kisah cinta 
yang tanpa alfa dan omega

sekali lagi pikirkan baik baik
bahwa, celanamu hanya mimpi
disiang bolong